Fenomena Mahasiswa dengan Ngopi di Kantin
Sebagai
mahasiwa kampus kigiatannya selain ngerjain tugas atau belajar ada yang hampir
80% waktunya digunakan untuk ngopi (istilah mahasiswa). Apa lagi saat jam
kosong, uuh.. pasti yang terucap dimulut “ayuuk ngopi?” atau kalau gk gitu “ayuuk
kekantin?”.jarang sekali temen-temen mahasiswa kalau jam kosong bilang gini
“ayuk keperpus” atau “ayuuk diskusi?”
kayaknya bukan jarang lagi deh..., bahkan gak ada.
Sempat
terbesit banyak pertayaan mengenahi hal itu. Apakah dengan ngopi dapat membuat
pikiran tenang atau karena dapat bercanda ria berbicara gak jelas, asal seru
dengan ngopi,akhirnya pikiran bisa frees. Hati mulai penasaran akan tradisi
mahasiswa seakan-akan menjadi hal yang
wajib. Kenapa saya katakan wajib karena pada kenyataan lapangan sudah terbuktikan
lebih ramai kantin dari pada di perpus. Malah yang lebih parah saat diskusi
dalam kelas mengenahi matkul itu kalau di suruh tanya aja gak ada yang mau
tanya. Apalagi yang berargumen untuk menguatkan pendapat masing-masing, saya
rasa seperti dalam lamunan saja.
Menyikapi
hal semacam itu sangatlah perlunya terjun lapangan dalam arti mencari sebab
terjadi konflik semacam itu, konflik di sini bukan kejadian yang menimbulkan
dampak yang negatif saja seperti yang sudah terpapar diatas melaikan hasil dari
konflik itu juga akan muncul perkara
yang positif, dengan membuktikan pada pengamatan lansung di lapangan.
Terbukti
luangnya waktu mahasiswa saat kuliah digunakan
untuk pergi ke kantin kampus, dan kebanyakan disitu tidak mengisi perut yang
lapar melainkan hanya sekedar menikmati secangkir kopi panas atau segelas
segarnya es. Bahkan tidak hanya pada saat kuliah saja tapi diluar jam kuliah
juga terbiyasa dengan tradisi ngopi.
Tak dapat
dipungkiri lagi mengenahi hal itu, semua
sudah menjadi rutinitas yang sudah wajar. Berbicara mengenahi konflik semacam
ini banyak pembahasan yang dimulai dari akibat negatif yang akan muncul. Pertama, ketika keseringan ngopi dengan kawan
akan menjadi permasalahan karena pada saat berkumpul kadang kala yang
dibicarain gk jelas (hanya sebatas canda tawa), apalagi warung yang ada wifi-nya
pasti semua terfokus pada genjet masing-masing. Kedua, daya minat mahasiswa
untuk membaca keilmuan sangatlah minim sekali, buktinya orang yang di Perpus
sedikit dengan yang ada di kantin. Ketiga, ada sebagian kecil ngopi dibuat
untuk membolos ketika gk mood dengan perkuliahan karena, disitulah tempat asyik
untuk nongkrong bareng. Keempat, pasti dapat membuat katong dompet cepet kosong
karena keseringan kekantin.
Sekarang
konflik yang timbul dalam hal yang positif mengenahi ngopi. Sebelumnya saya
akan berbicara sedikit mengenahi masalah kopi, apa saja yang terkandung dalam kopi, sehingga
dapat membuat orang ketagihan dan apakah dapat dibuktikan secara ilmu sains
mengenahi kandungannya. Ya teryata menurut penelitian para ahli mengenahi kopi
sangat banyak mengandung zat-zat termasuk, kafein yang dapat mencegah ngantuk
dan juga termasuk kandungan Quinic Acid yakni
Rasa asam pada kopi ditentukan pada jumlah zat yang satu ini, kadar quinic acid
pada kopi terkadang jumlahnya berbeda-beda, zat ini digunakan dalam ilmu
kedokteran sebagai bahan pembuatan obat flu. Dan masih banyak lagi kandungan
yang tersimpan pada biji kopi.
Dalam pengamatan saya mengenahi tentang permasalahan ngopi itu ada
banyak faktor yang mendorong mahasiswa untuk meluangkan waktunya menikmati kopi
atau pergi ke kantin. Pertama, untuk merefreskan pikiran. Kenapa kok saya
katakan seperti itu, sebab sebagian mahasiswa kalau tidak ngopi rasanya pusing
karena didalam biji kopi itu tersendiri mengandung kafein yang dapat menjadi
orang merasa kecanduan dan itu tak hanya terjadi pada mahasiswa saja melainkan
pada salah satu dosen yang pernah cerita mengenahi kecanduan dengan kopi.
Kedua, ngopi di kantin ternyata sebagian mahasiswa digunakan untuk membahas
tentang kegiatan organisasi maupun membahas tentang isu-isu yang beredar yang
mana itu dapat sebagai ajang untuk menambah wawasan. Ketiga, untuk merekatkan
persaudaraan antar teman dengan terciptanya suatu kebersamaan meskipun hanya
dengan secangkir kopi panas namun tersimpan banyak makna yang terkandung. Yang
terakhir, dapat menjadi berkah bagi sepemilik kantin.
Demikianlah realita yang terjadi di kampus yang mengacu pada teori
konflik yang tokohnya termasuk Karl Mark, George Simmel dan Ralf Dahendrof.
Sebagian besar didalam kejadian diatas mengacu pada teorinya Ralf Dahendrof
yakni teori fungsionalisme konflik.


