Kamis, 31 Mei 2018

Fenomena Mahasiswa Dengan Ngopi di Kantin Mengacu Pada Teorinya Ralf Dahendrof Yakni Teori Fungsionalisme Konflik.


Fenomena Mahasiswa dengan Ngopi di Kantin
Sebagai mahasiwa kampus kigiatannya selain ngerjain tugas atau belajar ada yang hampir 80% waktunya digunakan untuk ngopi (istilah mahasiswa). Apa lagi saat jam kosong, uuh.. pasti yang terucap dimulut “ayuuk ngopi?” atau kalau gk gitu “ayuuk kekantin?”.jarang sekali temen-temen mahasiswa kalau jam kosong bilang gini “ayuk keperpus” atau “ayuuk  diskusi?” kayaknya bukan jarang lagi deh..., bahkan gak ada.
Sempat terbesit banyak pertayaan mengenahi hal itu. Apakah dengan ngopi dapat membuat pikiran tenang atau karena dapat bercanda ria berbicara gak jelas, asal seru dengan ngopi,akhirnya pikiran bisa frees. Hati mulai penasaran akan tradisi mahasiswa seakan-akan  menjadi hal yang wajib. Kenapa saya katakan wajib karena pada kenyataan lapangan sudah terbuktikan lebih ramai kantin dari pada di perpus. Malah yang lebih parah saat diskusi dalam kelas mengenahi matkul itu kalau di suruh tanya aja gak ada yang mau tanya. Apalagi yang berargumen untuk menguatkan pendapat masing-masing, saya rasa seperti dalam lamunan saja.
Menyikapi hal semacam itu sangatlah perlunya terjun lapangan dalam arti mencari sebab terjadi konflik semacam itu, konflik di sini bukan kejadian yang menimbulkan dampak yang negatif saja seperti yang sudah terpapar diatas melaikan hasil dari konflik itu juga  akan muncul perkara yang positif, dengan membuktikan pada pengamatan lansung di lapangan.
Terbukti luangnya waktu mahasiswa  saat kuliah digunakan untuk pergi ke kantin kampus, dan kebanyakan disitu tidak mengisi perut yang lapar melainkan hanya sekedar menikmati secangkir kopi panas atau segelas segarnya es. Bahkan tidak hanya pada saat kuliah saja tapi diluar jam kuliah juga terbiyasa dengan tradisi ngopi.
Tak dapat dipungkiri  lagi mengenahi hal itu, semua sudah menjadi rutinitas yang sudah wajar. Berbicara mengenahi konflik semacam ini banyak pembahasan yang dimulai dari akibat negatif yang akan muncul.  Pertama, ketika keseringan ngopi dengan kawan akan menjadi permasalahan karena pada saat berkumpul kadang kala yang dibicarain gk jelas (hanya sebatas canda tawa), apalagi warung yang ada wifi-nya pasti semua terfokus pada genjet masing-masing. Kedua, daya minat mahasiswa untuk membaca keilmuan sangatlah minim sekali, buktinya orang yang di Perpus sedikit dengan yang ada di kantin. Ketiga, ada sebagian kecil ngopi dibuat untuk membolos ketika gk mood dengan perkuliahan karena, disitulah tempat asyik untuk nongkrong bareng. Keempat, pasti dapat membuat katong dompet cepet kosong karena keseringan kekantin.
Sekarang konflik yang timbul dalam hal yang positif mengenahi ngopi. Sebelumnya saya akan berbicara sedikit mengenahi masalah kopi, apa  saja yang terkandung dalam kopi, sehingga dapat membuat orang ketagihan dan apakah dapat dibuktikan secara ilmu sains mengenahi kandungannya. Ya teryata menurut penelitian para ahli mengenahi kopi sangat banyak mengandung zat-zat termasuk, kafein yang dapat mencegah ngantuk dan juga termasuk kandungan Quinic Acid yakni Rasa asam pada kopi ditentukan pada jumlah zat yang satu ini, kadar quinic acid pada kopi terkadang jumlahnya berbeda-beda, zat ini digunakan dalam ilmu kedokteran sebagai bahan pembuatan obat flu. Dan masih banyak lagi kandungan yang tersimpan pada biji kopi.
Dalam pengamatan saya mengenahi tentang permasalahan ngopi itu ada banyak faktor yang mendorong mahasiswa untuk meluangkan waktunya menikmati kopi atau pergi ke kantin. Pertama, untuk merefreskan pikiran. Kenapa kok saya katakan seperti itu, sebab sebagian mahasiswa kalau tidak ngopi rasanya pusing karena didalam biji kopi itu tersendiri mengandung kafein yang dapat menjadi orang merasa kecanduan dan itu tak hanya terjadi pada mahasiswa saja melainkan pada salah satu dosen yang pernah cerita mengenahi kecanduan dengan kopi. Kedua, ngopi di kantin ternyata sebagian mahasiswa digunakan untuk membahas tentang kegiatan organisasi maupun membahas tentang isu-isu yang beredar yang mana itu dapat sebagai ajang untuk menambah wawasan. Ketiga, untuk merekatkan persaudaraan antar teman dengan terciptanya suatu kebersamaan meskipun hanya dengan secangkir kopi panas namun tersimpan banyak makna yang terkandung. Yang terakhir, dapat menjadi berkah bagi sepemilik kantin.
Demikianlah realita yang terjadi di kampus yang mengacu pada teori konflik yang tokohnya termasuk Karl Mark, George Simmel dan Ralf Dahendrof. Sebagian besar didalam kejadian diatas mengacu pada teorinya Ralf Dahendrof yakni teori fungsionalisme konflik.

Rabu, 30 Mei 2018

Curahan Hati Mahasiswa Perbandingan Agama Kepada Sang Bunda


Waktu kadang seperti aliran air yang mengalir begitu saja, tanpa disadari banyak waktu terbuan sia-sia. Dua tahun sudah menjali pembelajaran di-Studi Agama, namun kadang hati merasa goyah akan sindiran keras dari orang sekitar yang meremehkan prodi ini. Tapi dengan semangat yang kuat semua sindiran itu bagaikan hembusan angin segar sebagai motivasi semangat pembelajaran. Mahasiswa adalah orang yang sudah dewasa, berani, punya prinsip tak ragu mencoba. Dan keinginan orang tua adalah hal terindah yang harus diwijudkan, karena orang tua kita berharap kita jadi orang hebat.
Masa depan diri mahasiswa ada ditangan kita sendiri, IPK yang buruk bukan berarti menggambarkan masa depan yang buruk pula. Waktu kita masih panjang, semangat perubahan yang kita miliki dan perwujudan keinginan orang tua yang tak pernah padam dan surut sedikitpun. Ikuti pembelajaran, cermati setiap ilmu yang diajarkan. Jangan hanya datang mengisi absebsi perkuliahan tanpa memikirkan kecerdasan intelektual. Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, agar kita tidak hanya dibatasai oleh tembok-tembok perkuliahan. Mahasiswa bukan pengecut yang mau lari dari persoalan, mahasiswa harus mau mengerti dan peduli terhadap masalah yang ada disekitar. Kebanggan orang tua bukan hanya pada pada nilai terbaik yang kita dapatkan, melainkan kesalehan sosial yang kita tanamkan pada diri kita sendiri.
Orang tua akan tajut jika kita lulus dengan nilai baik tanpa bisa dipertanggung jawabkan, etika moral dan pengalaman sosial juga harus diutamakan. Tugas mahasiswa tidak hanya selesai pada bangku perkuliahan saja, julukan Agen Perubahan yang kerap diunggulkan harus bisa dibuktikan. itu sebabnya, jangan terlalu larut dengan kehidupan kampus yang hanya mendewakan penampilan tetapi minus pengetahuan. Mulailah membaca buku-buku yang memberi kita keyakinan akan perubahan sosial, bukan hanya membaca artikel abal-abal tanpa rujukan. Jadilah mahasiswa yang smart dengan buku bacaan, bukan hanya smart dengan bantuan handphone mahal yang bisa kita didapatkan. Jadilah mahasiswa yang optimis, kritis, dan memberi nilai positif. Banyak cara dan tempat agar kita bisa memperoleh pengalaman, bukan hanya duduk santai dalam bangku perkuliahan, melainkan belantara kehidupan sosial masyarakat yang kini mengalami derita.
Mahasiswa bukan hanya terdiri dari anak orang kaya, tetapi juga anak buruh tani dan rakyat miskin kota. Berusahalah sebisa kita, wujudkan keinginan orang tua. Rubahlah kehidupan menjadi dewasa yang bisa merubah nasib keluarga. Jangan putus asa, dan jangan takut akan ancaman, jangan jadi mahasiswa mudah menyerah pada keadaan. Orang tua kita berkorban apapun demi mewujudkan cita-cita yang kita harapkan. Tantangan masa depan di era millenial bukan berarti harus mengesampingkan kesalehan moral, sebagai agen perubahan harus bisa menempatkan diri sesuai tindakan. mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum.
Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri di dalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, roh perubahan itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia. Jadi lakukan apa kamu bisa lakukan untuk bangsa ini, terutama ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka dari itu, semangat perubahan dan keinginan kita lah yang akan menentukan diri kita menjawab tantangan masa depan dan mewujudkan impian. Berani mencoba, dan berusaha akan membawa kita memperoleh pengalaman luar biasa, “Impossible is nothing” yang penting yakin dengan usaha kita dan yakin kalau kita bisa.

penulis asli : Ismawati 
Mahsiswa IAIN Kediri


Selasa, 23 Januari 2018

Langkahku


Kususun kata urai
Terungkap jejak langkah
Kuresapi setiap kalimat
Itulah rasa yang telah berlabuh
Akan terlampaui samudra luas
Tekat yang berlayar di hamparan biru
Bergoyang-goyang rasanya
Di perjalanan yang panjang
 Sunyi ketika mata ini gelap
Tiada rasa yang lain
Berubah akan sinar kecil
Terpancar dari ujung pandang
            Akan terlihat berbeda
            Ketika sinar terang muncul
            Di tengahnya gelap
            Tiada pancaran lain

Keadaan pun mulai berbeda lagi
Sang sinar kecil hilang
Begitu juga sang sinar terang
Terhempas oleh keadaan yang berbeda
            Sang cahaya terang dari timur
Sinarnya begitu tajam
Silaulah mata memandang
Kian tertutup kelopak mata
Kian memanas
Tak terbendung
Cucuran air keluar dari tubuh
Terbasahi sudah penutup tubuh
            Dikala panas membara
Inilah gencatat yang kuat
Menahan amarah
Yang kian berkobaran
Dan waktu berlalu
Sang sinar yang memancar mulai lelah
Dengan posisinya sendiri
Akan hempas sirna
            Dia mulai tenggelam
Hilang tak terlihat
Di arah barat
Yang entah tak tau kemana tujuannya
Manakala hidup ini
Adalah suatu keadaan yang berubah-ubah
Tak pasti untuk seperti apa
Dan bagaimanakah cara menyikapi keadaan
            Kunci dalam keadaan yang berubah
Dengan terus mencari makna hidup
Jalani dengan kelapangan dada
Di setiap serpihan ujian maupun kenikmatan


Mohamad Saifudin, Jum’at 19/01/2018

Fenomena Mahasiswa Dengan Ngopi di Kantin Mengacu Pada Teorinya Ralf Dahendrof Yakni Teori Fungsionalisme Konflik.

Fenomena Mahasiswa dengan Ngopi di Kantin Sebagai mahasiwa kampus kigiatannya selain ngerjain tugas atau belajar ada yang hampir 80% w...